Latest Post

Untuk menghabiskan waktu liburan setiap orang memang mempunyai minat masing-masing, ada yang lebih suka mendaki gunung, tapi tak sedikit pula yang memilih pantai sebagai lokasi bersantai masih di area pulau seribu. Untuk yang terakhir ini rasanya Anda harus mencoba berkunjung ke Pulau Tidung, Kecamatan Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Di sini Anda dapat menemukan suasana pantai tropis yang cantik tak kalah dengan pantai-pantai lainnya di luar negeri.

Pesona panorama alam Pulau Tidung

Pulau wisata ini kerap dikatakan potongan surga yang jatuh ke bumi karena panorama alam pesisirnya yang menakjubkan. Perairan berwarna biru kehijauan pada garis pantai yang panjang, pasir putih nan lembut, hingga deretan pepohonan kelapa yang daunnya melambai-lambai tertiup angin sepoi. Dua pantai yang populer di tempat ini adalah pantai Saung Perawan dan Pantai Cemara Kasih.
Waktu-waktu yang kerap dikatakan magis di pantai adalah kala matahari terbit dan terbenam, dimana sang surya menghilang perlahan-lahan meninggalkan berkas-berkas cahayanya berwarna merah kekuningan yang meninggalkan pendar-pendar di permukaan air laut. Inilah momen yang banyak dinanti para pecinta fotografi untuk mengambil gambar siluet atau mendapatkan latar belakang cantik penuh suasana romantis.
Lokasi paling diminati untuk melihat matahari atau terbenam di Pulau Tidung ini adalah di Jembatan Cinta yang menghubungkan kawasan Tidung Besar dan Kecil. Apalagi di sana ada mitos yang mengatakan bahwa pasangan kekasih yang datang berkunjung ke jembatan tersebut, kisah cintanya akan berakhir di pelaminan. Mitos semacam itu tentunya tak perlu dianggap terlalu serius namun sekedar kelakar belaka.

Aktivitas wisata di  Pulau Tidung

Pulau dengan luas 35 hektar ini dihuni oleh sekitar 5000 jiwa penduduk sehingga fasilitas liburan yang tersedia cukup lengkap, termasuk atraksi wisata yang bisa Anda coba. Anda bisa sekedar berjalan-jalan di pantainya yang indah, snorkeling atau diving, bersepeda melintasi kampung-kampung nelayan, dan menjelajahi perairan di sekitar pulau dengan perahu nelayan.
Anda bisa menyewa perahu tradisional milik masyarakat setempat untuk pengalaman liburan yang unik itu. Tarif sewa perahu akan lebih murah bila patungan bersama rekan-rekan Anda. Ada beberapa tujuan untuk tour mini ini, yaitu menjelajahi kawasan hutan bakau di dekat pantai Saung Perawan, berperahu di sekitar pulau wisata Tidung, atau island hoping, menjelajahi pulau-pulau kecil tak berpenghuni di sekitar pulau wisata. 

Transportasi dan akomodasi Pulau Tidung

Untuk mengakses pulau wisata ini Anda bisa naik kapal feri penyebrangan dari Muara Angke, dengan kapal milik Dinas Perhubungan, atau menyewa speed boat dari Dermaga Marina Ancol. Untuk pilihan yang terakhir ini Anda harus membayar tarif yang lebih mahal. Bagi wisatawan yang ingin menginap di pulau ini tersedia homestay yang dimiliki oleh masyarakat setempat, mengingat obyek wisata ini pengelolaannya memang berbasis masyarakat. Jadi tidak ada hotel atau resort di sini.
Untuk biaya penginapan Anda harus menyediakan dana sekitar 300 hingga 500 ribu untuk mendapatkan kamar dengan fasilitas standar, seperti kamar mandi dalam, tempat tidur springbed, AC, dispenser, dan sarapan pagi. Homestay yang terletak paling dekat dengan pantai umumnya bertarif lebih mahal dibandingkan yang lain. Dengan begitu Anda akan disuguhi pemandangan pantai yang cantik seharian.
Bagi wisatawan yang lebih suka berkemah, Pulau Tidung kecil adalah camping ground yang cocok bagi Anda. Dengan membayar sebesar 50 ribu Anda akan mendapatkan fasilitas air bersih, kamar mandi, dan tempat ibadah di lokasi perkemahan ini. Selamat liburan!
sumber : https://travelwisataindonesia.com/pulau-tidung-pantai-tropis-seindah-surga/

Pingin piknik ke danau? Indahnya Danau Biru Kolaka pasti membuat Anda berpaling dan tidak mau ke mana-mana lagi. Danau ini masuk dalam wilayah Desa Walasiho, Kecamatan Wawo, Kabupaten Kolaka Utara.
Sumber mata air Danau Biru Kolaka dipercaya berasal dari bekas tempat duduk seorang putri raja yang bertapa. Tetapi, di luar apakah itu sekadar legenda atau nyata, keindahan Danau Biru Kolaka patut diacungi jempol empat. Danau Biru Kolaka dikelilingi dinding batu yang kokoh. Bukit dan pepohonan menjadi bagian lain yang mengambil porsi lain mempercantik Danau Biru. Salah satu cara menikmati Danau Biru yang bisa Anda lakukan adalah berenang. Air danaunya payau, tidak asin juga tidak tawar. Suhunya sedikit dingin karena berada di pegunungan dengan warna biru cerah. Kedalaman air danau sekitar tujuh meter.
Jika Anda berani, di salah satu sisi danau ada tempat meloncat cukup tinggi. Anda bisa meloncat dari ketinggian tujuh meter dari tempat itu, tepatnya di sebelah kanan danau. Jika Anda adalah penggemar fotografi tidak usah khawatir, banyak spot keren yang bisa Anda jadikan latar.

Fasilitas wisata di Danau Biru Kolaka

Sebelum dikelola oleh dinas pariwisata setempat, pengunjung yang datang ke Danau Biru Kolaka bisa dimintai uang 25 ribu sebagai retribusi. Namun setelah dinas pariwisata mengelola, tiket masuk menjadi 5 ribu perorang. Demikian juga dengan parkir, hanya 5 ribu saja. Tidak banyak.
Fasilitas di Danau Biru Kolaka cukup lengkap. Ada kamar mandi dan wc yang bisa Anda gunakan di sana. Jika kebetulan Anda ingin mandi dan menikmati air Danau Biru Kolaka, Anda bisa menggunakan kamar khusus untuk ganti baju. Jadi, sebelum berangkat ke Danau Biru Kolaka, pastikan dulu, Anda membawa pakaian ganti.
Demi menjaga kebersihan, jangan lupa untuk membuang sampah pada tempatnya. Banyak tempat sampah yang disiapkan di beberapa titik tepi danau. Ini bukan hanya demi menjaga kelestarian danau, tapi juga demi menjaga kebersihan dan kelangsungan ekosistem yang hidup di dalam danau. 
Sesekali, jika Anda adalah orang yang gemar memancing, sebaiknya Anda tidak memancing di Danau Biru Kolaka. Sebuah mitos yang dipercaya masyarakat sekitar melarang siapapun mengambil dan memakan ikan dari danau itu. siapa yang mengambil dan memakan ikan dari Danau Biru Kolaka dipercaya akan mendapat sial. Anda bisa saja tidak percaya ini. Namun, kalaupun ini hanya mitos yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya, tidak mengambil ikan dari danau ini adalah cara untuk melestarikan ekosistem danau. Jadi, atas alasan apapun, sebaiknya Anda mematuhi ini.

Akses menuju Danau Biru Kolaka

Untuk menuju Danau Biru Kolaka, Anda bisa dari Kota Kendari. Kota Kendari ke Danau Biru Kolaka berjarak sekitar 320 km. Dari Kendari Anda bisa memacu kendaraan ke arah Kolaka melewati Kabupaten Konawe, Kolaka Timur, hingga sampai Kolaka. Jika perjalanan Anda lancar, sekitar tujuh jam Anda sudah akan sampai di Kolaka. Jika Anda menggunakan kendaraan umum semacam bus, Anda bisa mengambil jus dengan rute Kendari-Makassar. Lalu turun di Kolaka. Dari Kolaka, Anda bisa langsung menuju Danau Biru Kolaka. Jika mungkin kebetulan Anda sedang memiliki bujet lebih, Anda bisa mengambil jalur udara dari Bandara Internasional Hasanudin Makassar ke Bandara Sangia Nibandera di Kolaka. Ada Pesawat Wings Air yang melayani rute penerbangan ini.
Jalan menuju Danau Biru Kolaka lumayan menantang. Jalan ini khas jalanan pegunungan yang naik turun. Kelokan tajam sudah menjadi semacam sesuatu yang wajib ada di jalanan seperti ini. Jadi pastikan Anda tidak sendiri. Sehingga kalau-kalau Anda merasa lelah, Anda bisa menyetir bergantian.

sumber : https://travelwisataindonesia.com/indahnya-danau-biru-kolaka-utara/

Hallo para traveler! Apakah anda sudah memiliki rencana liburan? Atau masih bingung mau liburan kemana? Bagi yang suka pantai atau pecinta pantai (beach lovers) ini ada salah satu pantai yang sangat bagus, sejuk dan bersih namanya Gumumae Beach (Pantai Gumumae). Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya bersama keluarga berlibur ke Pantai Gumumae yang menjadi salah satu pantai favorit masyarakat di Ibu Kota Bula Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) pada liburan tanggal Satu Januari kemarin.

Semburat merah memancar dari kaki langit menjelang detik-detik terbenamnya matahari. Pantulan sinar kemerahan, menyentuh daun-daun cemara yang berbaris rapat di binbir pantai. Ketika sang surya membenamkan dirinya di ufuk barat, awan-awan yang memerah, mengantar perahu nelayan kembali ke darat. " Dengan judul Ketika Sang Surya Tenggelam di Pantai Gumumae itulah yang di kutip dari halaman web KBRN Bula oleh Abdullah Leurima, Reporter RRI Bula peraih Anugerah Pesona Bahari Indonesia 2016 (best of the best) dari Menteri Pariwisata RI.

Pantai Gumumae merupakan salah satu pantai yang terletak di Desa Sesar, Kecamatan Bula, Kabupaten SBT. Untuk bisa menikmati pesona Pantai Gumumae, para pengunjung harus melewati gerbang depan bertuliskan “Welcom to Gumamae” dan menyusuri jalan beraspal sepanjang 1,4 kilometer. dari jalan raya Kota Bula ke arah timur laut. Wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor maupun angkutan umum untuk mencapai lokasi Pantai Gumumae. Tidak lah sulit untuk mencapai lokasi wisata karena rute jalan yang dilalui mudah, beraspal dan banyak arah petunjuk ke Pantai Gumumae.

Setelah tiba di lokasi wisata, anda terlebih dahulu membeli karcis masuk yang harganya sangat ramah kantong, yaitu hanya Rp10.000 bagi kendaraan roda empat sedangkan roda dua Rp5.000 itu pun sudah termasuk biaya parkir. Setelah melewati pintu masuk pembayaran karcis, mata anda akan dimanjakan dengan pemandangan pohon kasuari laut (Casuarina equisetifolia) sepanjang jalan pantai tersebut.

Di Bula, Pantai Gumumae menjadi salah satu pantai paling favorit bagi masyarakat setempat khususnya Kabupaten SBT. Pantai ini sangat ramai dikunjungi para wisatawan lokal maupun nasional bahkan dari mancanegara pada akhir pekan atau libur panjang. Namun akan semakin ramai pada saat menjelang tahun baru tanggal 1 januari.

Pantai Gumumae terkenal dengan hamparan pohon kasuari laut yang menghiasi hampir seluruh tepi pantai. Tidak heran, dengan adanya pohon kasuari laut yang mengelilingi pantai membuat suasana di pantai ini semakin sejuk. Memang tidak banyak pantai yang memiliki karakter tersebut, sehingga Pantai Gumumae memiliki ciri khas tersendiri.

Di tepi pantai dibawah pohon kasuari terdapat beberapa tempat berteduh seperti gazebo yang memang dibangun pemerintah setempat untuk kenyamanan para wisatawan. Gazebo yang telah disediakan di pantai ini sangat bagus dan cukup luas. Sehingga para wisatawan dapat duduk santai, tiduran, bersenda gurau, makan cemilan di gazebo yang ada di pantai ini.

Anda juga dapat membawa bekal serta tikar dari rumah dan dimakan bersama keluarga dibawah pohon kasuari. Makan bersama keluarga dibawah pohon kasuari  memang sangat nikmat ditambah suasananya yang sejuk dengan udara yang segar.

Tidak begitu banyak peraturan di pantai ini asalkan tetap menjaga kebersihan sekitar pantai seperti membuang sampah setelah makan ke tempat sampah yang telah disediakan di sekitar lokasi wisata.

Pantai Gumumae memiliki pasir yang begitu halus yang terbentang sejauh 3,2 kilometer, dan menjadi salah satu permainan favorit para wisatawan karena mereka dapat bermain, menggambar dan menulis di pasir lalu memotretnya. Ombak di Pantai Gumumae tidak begitu besar, sehingga tidak berbahaya untuk para wisatawan baik dewasa maupun anak-anak untuk berenang ataupun snorkeling.

Apabila anda ingin berenang, di lokasi pantai sudah disediakan tempat untuk menyewa perlengkapan renang seperti ban pelampung. Bagi anda yang tidak suka berenang, anda dapat berjalan-jalan menyusuri pantai dengan menikmati angin semilir yang sejuk.

Pemerintah Kabupaten SBT sempat merenovasi pantai tersebut dengan membangun monumen dan lampu jalan menuju pantai pada saat Event Tour de Moluccas (TdM) pada September 2017 yang lalu  monumen dengan tulisan "Gumumae Beach" dan menjadi spot favorit untuk berfoto para wisatawan. Tak perlu khawatir jika anda lapar dan tidak membawa bekal dari rumah karena sudah banyak warung kecil di sekitar Pantai yang menjual makanan dan minuman seperti rujak, lontong, es kelapa muda dan makanan khas Kabupaten bertajuk Ita Wotu Nusa.

Di tengah teriknya matahari, rujak lontong yang lezat dan segarnya es kelapa muda sangat cocok untuk dinikmati. Harga makanan maupun minuman di lokasi wisata pun juga sangat bersahabat dengan kantong. Sehingga para wisatawan tetap dapat mencicipi jajanan khas Seram Bagian Timur sambil menikmati udara segar di tepi pantai.

Hal tersebut di ungkapkan Nur Rumodar, salah satu penjaga pintu masuk Pantai Gumumae yang di minta keterangannya pada saat liburan tahun baru  kemarin yang menjadi pilihan warga setempat yang mengisi liburan hari pertama tahun 2018.

“Sejak pagi hari warga sudah memadati pantai Gumumae, bahkan sejak malam pergantian tahun baru banyak warga yang sempat merayakannya di pantai ini,” Kata Nur Rumodar, saat di minta keterangannya pada hari pertama liburan tahun baru Senin (1/1/2018).

Menurut dia, pengunjung umumnya warga Bula, tetapi ada juga yang dari luar daerah. Karcis masuk objek wisata pantai Gumumae Rp 5.000 untuk kendaraan roda dua, sedangkan roda empat Rp 10.000.

“Rata-rata pengunjung adalah warga Kabupaten SBT serta wisatawan lokal dan nasional,” Kata Nur.

Objek wisata Pantai Gumumae di Kota Bula, Kabupaten SBT berhasil mencapai target Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang ditetapkan oleh pemerintah setempat sebesar Rp10 juta per tahun.

“Sudah melebihi dari yang ditargetkan oleh pemerintah daerah Kabupaten SBT, Rp10 juta. Hingga September 2017 yang lalu sudah mencapai Rp11 juta, kami masih terus mengejar PAD yang lebih tinggi lagi,” Kata Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Seram Bagian Timur Ramli Keliobas di Bula, Jumat (05/01).

Jika dilihat dari pencapaian angka setoran PAD yang sudah melebihi target, kata dia, besar kemungkinan PAD Pantai Gumumae bisa mencapai 200 persen di setia akhir tahun.

“Saya perkirakan di setiap tahun baru PAD kita  bisa mencapai 200 persen karena akhir tahun biasanya sangat ramai pengunjung di pantai ini bahkan terlihat pada saat tanggal 1 Januari 2018 kemarin,” katanya.

Gumumae Beach terkenal dengan pasirnya yang halus dan terhampar memanjang, serta keindahan fenomena matahari terbenam di ufuk timur dan di hiasi ratusan pohon kasuari dan mangrove di seputaran pantai itu. Bagaimana dengan cerita pengalaman saya? Seru bukan? Jadikan Pantai Gumumae sebagai salah satu list liburan yang wajib anda kunjungi bersama keluarga, teman maupun pasangan.

 Penulis : Baim Abdullah Rumadaul
                  Dari Ufuk  Timur

Sumber : www.mediamaluku.com
http://atamainews.blogspot.com/2018/01/wisata-pantai-gumumae-ita-wotu-nusa.html

Payment for Ecosystem Services (PES) atau Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL) merupakan skema yang mengharuskan pengguna suatu area tertentu membayar sejumlah nominal yang nantinya digunakan untuk melindungi dan mengelola kawasan tersebut dengan prinsip berkelanjutan. Dengan difasilitasi WWF-Indonesia, Petuanan Kataloka dan Jaringan Kapal Rekreasi Indonesia (Jangkar) menyepakati sistem PJL untuk membantu upaya konservasi perairan dan pesisir Petuanan Kataloka. Pemberlakuan PJL di Koon ini sudah dimulai sejak tanggal 29 Maret 2016 dengan menyasar kapal rekreasi (liveaboard) sebagai target awal. Dana yang diperoleh dari pembayaran tersebut akan dikelola oleh Lembaga Adat Wanu Atalo’a (Leawana) untuk kebutuhan konservasi, kebudayaan, dan pendidikan di wilayah Petuanan Kataloka. (Baca juga Pemanfaatan berbasis Hak Petuanan di Pulau Koon, Maluku).

Raja Kataloka memiliki Hak Petuanan Laut di 12 dusun di empat pulau: Pulau Koon, Grogos, Nukus, dan sebagian Pulau Gorom yang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Seram Bagian Timur. Dari keempat pulau yang termasuk ke dalam Bentang Laut Inner Banda Arc (Inner Banda Arc Seascape) tersebut, WWF-Indonesia memfokuskan dampingannya di wilayah Pulau Koon dan perairannya sejak lima tahun lalu dengan mengawal program Marine Conservation Area (MCA) dengan tool Rights Based Management (RBM) di wilayah Petuanan Kataloka. (Baca juga Sumpah Adat Negeri Kataloka Untuk Jaga Keberlanjutan Kawasan Perairan Pulau Koon) Program tersebut dijalankan berdasarkan fakta bahwa perairan Koon merupakan salah satu daerah penyangga untuk kesediaan stok ikan di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir pun WWF-Indonesia memulai intervensinya dalam ranah pariwisata bahari yang bertanggung jawab di Koon, salah satunya dengan mengenalkan sistem PJL.

Mekanisme pembayaran jasa lingkungan di wisata bahari ini diharapkan membantu mempertahankan fungsi alami kawasan perairan dan pesisir Petuanan Kataloka dalam menyediakan sumber daya untuk keberlangsungan hidup. Leawana akan melakukan perlindungan kawasan di bawah koordinasi dan pendampingan Raja Petuanan Kataloka. Selama beberapa waktu ke depan, PT Samudera Ekowisata Indonesia (SEI), akan membantu Leawana dalam proses sosialisasi PJL ke kapal rekreasi yang masuk ke daerah tersebut. Jelajah Biru (kunjungi lamannya di http://jelajahbiru.com/), merek dagang dari PT SEI, pun bermitra dengan WWF-Indonesia dan sejumlah LSM lokal untuk mengembangkan potensi ekowisata bahari, salah satunya di Kepulauan Koon ini.

Wisata Bahari untuk Pengembangan Ekonomi Masyarakat Sekitar

Sebelumnya, tidak pernah terpikirkan bahwa sektor pariwisata akan dapat mendatangkan benefit bagi masyarakat setempat, selain dari penangkapan ikan karang. Padahal, keindahan bawah laut memiliki potensi besar menjadi daya tarik utama Koon. Dalam setiap musim pelayaran, sejumlah kapal rekreasi membawa para wisatawan untuk menyelam di perairan Koon yang berarus kuat dan menantang. Biasanya kapal singgah selama satu hari di perairan Koon dalam rute mereka antara Sorong dan Banda. Jangkar, yang menaungi sejumlah kapal rekreasi yang melewati perairan Koon, telah menyatakan komitmennya untuk berkontribusi menjaga perairan kaya ini. Komitmen tersebut ditindaklanjuti dengan penyertaan Jangkar dalam proses sosialisasi dan pengembangan mekanisme PJL yang dilakukan Leawana, WWF-Indonesia dan PT SEI. Dari masukan yang diterima, disepakati pembayaran PJL bisa dilakukan melalui PT SEI yang telah memperoleh mandat dari Leawana. Hal ini akan  mempermudah proses pembayaran dan komunikasi mengingat sulitnya sinyal dan ketiadaan bank di wilayah Petuanan Kataloka. Besaran pembayaran jasa lingkungan untuk perairan dan pesisir Petuanan Kataloka dapat dicek di laman Jejalah Biru di Pembayaran Jasa Lingkungan untuk Konservasi di Petuanan Kataloka.

Pariwisata di Petuanan Kataloka akan terus berkembang dan dikembangkan. Tidak hanya wisata penyelaman di Pulau Koon. Misalnya saja, wisatawan juga dapat berkunjung ke Pulau Gorom dan menikmati resep keluarga Kerajaan Petuanan Kataloka serta trekkingdi kebun pala. Kunjungan wisatawan yang dikelola secara bertanggung jawab diharapkan mampu memberikan pemasukan alternatif bagi masyarakat yang memiliki keinginan untuk melindungi wilayahnya.

“Pemerintah Seram Bagian Timur mendukung sepenuhnya penyelenggaraan kepariwasataan yg di kelola dengan cara-cara arif. Perkembangan pariwisata perairan Koon akan membawa nama daerah kami di tingkat international,” ucap Sekretaris Daerah Seram Bagian Timur Syarif Makmur pada kegiatan Sosialisasi Pembiayaan Jasa Lingkungan di Denpasar, Bali pada 29 Maret 2016 lalu.

Penulis: Annisa S. Ruzuar (Responsible Marine Tourism and Sustainable Seafood Communication Advisor) dan Novita Eka Syaputri  (Sunda Banda Seascape Communication and Campaign Assistant)
sumber : https://www.wwf.or.id/?47922/Real-Contribution-for-Conservation

Tradisi masyarakat pesisir Maluku sangat kental dengan aktivitas bahari, jauh sebelum teknologi mesin modern menempel di perahu-perahu mereka, jauh sebelum itu mereka ber-panggayo dari satu tempat ke tempat lainnya. Masyarakat pesisir provinsi Maluku menyadari bahwa hanya 10% dari total luas daerah, dengan luas hampir 4 kali luas Pulau Jawa atau sebesar 580 ribu km2, yang merupakan daratan, sisanya adalah wilayah laut yang memiliki potensi luar biasa. Panggayo, atau dalam bahasa Indonesia berarti mendayung yang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal dan adaptasi masyarakat pesisir wilayah yang dikelilingi laut tersebut dalam menyambung rantai kehidupan mereka.

Sebesar 90% dari total luas daerah provinsi Maluku yang merupakan lautan, berarti sekitar 530 ribu km2, sedangkan daratan tersebar menjadi 559 pulau besar dan kecil yang mencapai total luas 54 ribu km2. Meski laut mendominasi wilayah provinsi Maluku, jumlah pemanfaatan dari sektor ini masih tergolong rendah. Terbukti hanya 2.7 juta USD dari total nilai ekspor yang mencapai 12.9 juta USD provinsi ini sepanjang Januari – Oktober 2011, merupakan hasil bahari seperti ikan dan udang dan itu berarti hanya sekitar 20 persen dari nilai keseluruhan ekspor. Potensi perikanan luar biasa tersebut masih belum mampu mendongkrak jumlah pemanfaatan yang optimal. 

Salah satu potensi perikanan yang luar biasa dari wilayah perairan Maluku adalah perairan sekitar Pulau Koon. Pulau kecil yang terletak di tenggara Pulau Seram yang berada langsung di tepian Laut Banda merupakan salah satu daerah habitat penting pemijahan ikan karang yang merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomi tinggi. Menurut hasil survei WWF, dan membandingkan dengan beberapa wilayah pemijahan perikanan di Indonesia timur lainnya, kawasan sekitar Pulau Koon diperkirakan sebagai area pemijahan ikan karang terbesar di kawasan Indonesia Timur.

Saat ini masyarakat yang dipimpin langsung oleh pemimpin adat dan pemangku kepentingan di wilayah Pulau Koon seperti Raja Kataloka, Bapak Ansar Wattimena, Kepala Dusun Grogos, Bapak Udin Rakhmat, sedang memulai inisiatif patroli untuk melindungi daerah tersebut. Pergerakan perlindungan area penting ini bahkan dipimpin langsung oleh Raja Kataloka dengan mengeluarkan ultimatum pada tanggal 24 Mei 2011 di Grogos yang berbunyi “Suka atau Tidak Suka, Koon Harus Dijaga Untuk Generasi Berikutnya”. Sementara itu Kepala Dusun Grogos memimpin langsung sebagai koordinator patroli yang sementara ini masih beranggotakan 2 orang.

Tugas yang diembankan kepada tim patroli tidak-lah mudah, mereka harus berhadapan langsung dengan masyarakat nelayan yang masih melakukan penangkapan ikan secara ilegal di kawasan Pulau Koon. Namun edukasi dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap. Tugas berikutnya adalah mensosialisasikan kawasan Pulau Koon sebagai zona inti kepada pelancong yang sering singgah, yang biasanya adalah kapal-kapal besar dari Bali yang melintas menuju kawasan Raja Ampat akan singgah di area Koon. Selain itu petugas patroli diharapkan dapat melakukan pencatatan dan survei terhadap setiap detil aktivitas di sekitar perairan tersebut seperti jumlah tangkapan nelayan, turis dan kapal-kapal yang melintas maupun yang singgah, serta pendataan zona penting lainnya.

Penduduk sekitar Pulau Koon ber-panggayo dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari termasuk dalam melindungi wilayah mereka. Mereka memahami bahwa laut dan kandungannya merupakan anugerah untuk masa depan yang harus dijaga mulai dari sekarang, dan dengan kearifan lokal masyarakat dan Kerajaan Gorom, serta dukungan Pemda Seram Bagian Timur yang menjadikan kawasan sekitar Pulau Koon sebagai kawasan pencadangan konservasi dengan SK 523/189/Kep/2011 tertanggal 1 Agustus 2011 maka dunia perikanan di Indonesia bagian timur sekali lagi masih memiliki titik cerah untuk memberikan sumbangsih terhadap perikanan secara optimal, khususnya Provinsi Maluku, dengan tetap bertahan dari aktivitas yang merusak serta tidak ramah lingkungan.

sumber : https://www.wwf.or.id/?24185/panggayo-ke-koon-maluku

Leawana (Lembaga Adat Wanu Atalo’a) yang didirikan oleh Raja Petuanan Kataloka kembali akan menggelar FESTIVAL KATALOKA. Petuanan Kataloka memiliki kekuasaan adat atas Pulau Nukus, Grogos, Koon dan sebagian Pulau Gorom di Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku.

FESTIVAL KATALOKA merupakan hajatan masyarakat di Petuanan Negeri Kataloka, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, yang dipimpin oleh Raja Kataloka. Tahun ini, FESTIVAL KATALOKA yang telah memasuki pagelaran tahun ke-3 akan mengangkat tema “Pesona Wisata Budaya Seram Bagian Timur” yang diselenggarakan tersebar di beberapa wanu (kampung).

Tak sekadar mementaskan aneka tarian, FESTIVAL KATALOKA juga menampilkan pameran baju-baju adat, benda-benda yang bernilai sejarah di kerajaan, serta diskusi budaya tentang sejarah budaya yang dimiliki oleh masing-masing desa yang masuk ke dalam Petuanan Kataloka.

FESTIVAL KATALOKA akan digelar pada 2-5 Desember 2017.

Agenda FESTIVAL KATALOKA 2017:
  • Belang (Pawai Perahu Tradisional)
Belang merupakan perahu tradisional dari Maluku, yang biasanya dihias dengan bendera dan atribut warna-warni. Pawai perahu ini dilakukan untuk menyambut tamu-tamu yang menghadiri FESTIVAL KATALOKA.
  • Penetapan Ngam
Ngam atau di Maluku lebih dikenal dengan istilah Sasi merupakan skema perlindungan sumber daya alam yang berbasis kearifan lokal. Dalam FESTIVAL KATALOKA ini, Raja Kataloka akan kembali menetapkan Ngam di Perairan Pulau Koon yang merupakan salah satu lokasi pemijahan ikan kakap terbesar di Indonesia Timur untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan di Petuanan Kataloka. 
  • Pameran Budaya dan Lingkungan
Pameran Budaya dan Lingkungan akan menampilkan benda-benda antik koleksi Negeri Kataloka, foto kekayaan bawah laut dan perjalanan konservasi di Kataloka, foto kuno Kataloka, produksi dan kuliner khas dari Negeri Kataloka dan sekitarnya, pameran pembangunan dari dinas di SBT.
  • Pentas Seni dan Pawai Budaya Lokal
Malam kesenian akan menampilkan berbagai tarian dan kesenian lainnya dari Negeri-negeri di Goran Riun dan Esi Riun, serta pemberian penghargaan kepada seniman-seniwati yang pernah menjadi duta seni Kataloka mewakili Maluku serta menampilkan hiburan dari artis lokal.

Pawai budaya akan dilaksanakan di darat dan laut dengan rute ketika Raja Jou Bessy bersama Sultan Nuku berperang melawan Belanda di Negeri Kataloka. Sebanyak lebih kurang 1.000 orang akan terlibat dalam pawai budaya. Seluruh peserta pawai budaya mengenakan baju adat Goran Riun.
  • Diskusi Budaya
Tema diskusi budaya adalah “Peran Adat di Era Globalisasi”. Keynote speech: Bapak Hilmar Farid ( Dirjen Kebudayaan RI)*

Gorom, Adat istiadat, lintas sejarah dan Petuanan:
  • Prof. Dr. Mus Huliselan
  • Prof. Dr. Tony Pariela
  • Raja Kataloka
  • WWF-Indonesia 
*masih menunggu konfirmasi
  • Tarian tradisional
Tarian tradisional pada FESTIVAL KATALOKA adalah Tari Bongkorey, Tari Perang, Tari Sawat, Tari Silat Jala, dan juga tari kolosal yang akan ditampilan pada acara pembukaan. Acara pembukaan diawali dengan prosesi pengibaran panji-panji kebesaran kerajaan Kataloka dan rencananya akan dibuka oleh Bapak Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI.
  • Aneka Lomba
Ada beberapa lomba yang akan diadakan pada FESTIVAL KATALOKA yaitu :
  • Tari sawat
  • Menyanyi lagu Gorom
  • Menggambar dan mewarnai dengan tema “Lautku”
  • Paduan suara ibu-ibu menyanyi lagu gorom
  • Pemilihan Ilar Ilwouw (putera-puteri) Kataloka 
  • Hanga Riribun
Hanga Riribun merupakan acara makan bersama seluruh masyarakat, Raja, dan juga semua tamu-tamu yang hadir pada Festival Kataloka. Makanan yang disajikan pada Hanga Riribun ini merupakan makanan tradisional yang sudah ada sejak dulu.

Penyelenggara
Leawana (Lembaga Adat Wanu Ata Lo’a) Negeri Kataloka bersama Bappeda Kabupaten Seram Bagian Timur, Kecamatan Pulau Gorom, dan WWF-Indonesia

sumber : /www.wwf.or.id

Obyek wisata yang ada di Kabupaten Seram Bagian Timur adalah : 
- Tari Lenso 
Tarian ini merupakan tarian masyarakat di Kepulauan Maluku pada umumnya. Salah satu nya, dari Kecamatan Werinama Kabupaten Seram Bagian Timur. Tari Lenso biasanya dilaksanakan pada saat prosesi pelantikan raja-raja. 
- Tari Wali-Wali Wosa 
- Tari Kabata
Dilaksanakan pada saat prosesi perkawinan anak anak raja sebagai bentuk penghormatan.
- Tari Tata Kora 
ari ini berasal dari Desa Dai, Kecamatan Pulau Gorom. Tari Tata Kora mempunyai ikatan emosional dengan Kepulauan Kei, merupakan asal mula sejarah perjalanan hubungan pela dengan Kabupaen Seram Bagian Timur. Para pemuda-pemudi sering membawakan tarian ini untuk mengingat kejadian masa lampau dan menggambarkan peristiwa atau kejadian kejadian yang terjadi.(Red/Humas Setda SBT) 
- Tari Sawat / Tarian Pergaulan 
Tari yang dilakukan untuk menghormati atau menyambut tamu pada saat acara acara adat, pelantikan raja dan bahkan dipentaskan pada acara acara lokal atau daerah setempat. Tari ini pun biasanya dipertunjukkan dengan iringan Tipa Sawat dan Seruling dan bernuansa.
sumber : http://infotimurseram.blogspot.com/2016/01/wista-budaya-di-sbt.html

KABUPATEN SERAM BAGIAN TIMUR (BULA)

GAMBARAN UMUM
Bula adalah Ibukota Kabupaten Seram Bagian Timur, menutupi area sekitar 15.887,92 Km2 dan terdiri dari 11.935,84 Km2 lautan dan 3.971,98 Km2 daratan. Jumlah penduduk pada tahun 2009 adalah 86.709 jiwa, yang tersebar di beberapa kecamatan, antara lain; Pulau Gorong, Seram Timur, Werinama dan Bula.
Kabupaten Seram Bagian Timur berbatasan dengan Laut Seram disebelah utara, Laut Banda disebelah selatan, Laut Arafura disebelah timur dan Laut Maluku disebelah barat. Secara geografis kabupaten ini terletak diantara Benua Asia dan Australia, sehingga beriklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi. Temperaturnya rata-rata 27.9’ C, dengan temperatur terendah 20.2’C dan temperatur tertinggi dapat mencapai 31.9’C.

DAERAH TUJUAN WISATA
·      Danau Sole
Danau Sole yang berada desa Amarsekaru, Pulau Gorong merupakan tempat yang terkenal di dunia. Salah satu kapal pesiar musisi dunia, Mick Jagger dari Band The Rolling Stones pernah ke tempat ini. Danau ini bersih dan tentunya mengundang siapa saja untuk datang berenang atau menyelam. Lingkungan sekitarnya menarik untuk dijelajahi. Fasilitas untuk pengunjung telah disediakan. Danau Sole dapat dicapai dengan perjalanan sejauh 1 jam menggunakan kapal  atau sepeda motor dari Kataloka.

·      Pulau Kon
Merupakan pulau kecil yang terletak di tengah laut, antara Kecamatan Seram Timur dan Kecamatan Pulau Gorong. Keindahan pulau dan terumbu karangnya benar-benar tidak terkatakan. Kegiatan menyelam sangat disarankan untuk mengamati terumbu karangnya. Berdasarkan mitos masyarakat setempat, ada seorang putri muda yang cantik tinggal di dasar laut sekitar Pulau Kon. Dia merupakan penjaga pulau ini. Setiap nelayan yang bertemu dengannya konon akan mendapatkan hasil tangkapan yang bagus ketika berada disekitar pulau tersebut. Pulau ini dapat ditempuh dengan perjalanan selama 1 jam menggunakan speedboat dari Pulau Geser.

·      Pulau Teluk Karang
Nikmati pengalaman menyelam yang menakjubkan di salah satu lokasi menyelam terbaik di Pulau Teluk Karang. Dihiasi oleh biota bawah laut seperti Angel Fish dan terumbu karang yang berwarna-warni siap menanti anda. Pulau Teluk Karang dapat dicapai dengan sepeda motor, mobil atau menggunakan perahu tradisional dengan waktu sekitar satu jam.

·      Pantai Englas
Pantai pasir putih Englas terletak di sebelah timur Bula, di desa Englas. Pantai ini merupakan pantai yang bersih dengan panorama alam yang indah dan air yang sejernih kristal. Pantai ini tempat cocok untuk piknik, berenang ataupun memancing. Pantai ini dengan menggunakan sepeda motor atau mobil selama 15 menit dari Bula.

·      Tanjung Sesar
Tanjung Sesar dapat dicapai dengan berkendara selama 30 menit menggunakan motor atau minibus. Tempat ini akan dikembangkan sebagai salah satu lokasi objek wisata terkemuka di kabupaten Seram Bagian Timur. Fasilitasnya yang berstandar internasional akan dibangun. Pengunjung dapat menikmati pantai pasir putih, pohon kasuari, udara segar dan suasana alam yang menyenangkan.
·      Kataloka
Bekas kediaman Raja Muda Kataloka, Jo. A. Wattimena, merupakan sebuah museum yang memamerkan koleksi benda-benda bersejarah. Terdapat gendang tua, benda bersejarah dengan hiasan 4 katak pada atasnya yang ditemukan oleh salah satu penduduk desa Amarsekaru pada pemerintahan Raja Kataloka VII (Raja Bintang). Benda-benda lainnya adalah Keris Emas atau Raja Bintang Kataloka, Meriam VOC dan lain-lain.

·      Batu Watukaman
Monumen “Tura Bail Goran Rium” didirikan untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia dalam membebaskan Papua New Guinea dari penjajahan Belanda. Monumen ini dibangun sekitar tahun 1962 oleh Anton Sujarwo (mantan Kepala Kepolisian Indonesia) dengan bantuan masyarakat setempat. Seorang warga Buton bernama La Masele, menunjukan jalan bagi tentara Indonesia melakukan invasi ke Papua New Guinea.

·      Pulau Geser
Geser merupakan salah satu dari sekian banyak pulau-pulau kecil yang terdapat di Kecamatan Seram Timur. Adapun tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi antara lain: Pulau Kwaos, Kidang dan Siwa-Siwan, sangat cocok untuk berenang, snorkel dan sun-bathing atau pun menikmati keindahan pemandangan alam yang masih alami. Pulau Geser dapat dicapai dengan menggunakan speedboat selama 2 jam. Perjalanan ke pulau Geser akan melewati pesisir pantai.

·      Gunung Bati
Gunung Bati terletak di desa Kina Darat dan Kilmoy, Kecamatan Seram Timur. Gunung Bati dapat dilihat dari Pulau Geser. Suku Bati tersebar di 2 desa, yaitu desa Kina Darat dan Kilmoy. Rumah penduduknya terbuat dari daun sagu. Berburu merupakan kegiatan sehari-hari masyarakatnya. Makanan pokoknya ialah sagu. Mereka masih memegang tradisi adat istiadatnya. Suku ini dipercaya memiliki kekuatan supranatural. Dikatakan bahwa Suku Bati dapat menghilang ataupun terbang ke suatu tempat, seperti ke kota Ambon atau tempat lain di dunia. Mereka mempunyai mantra-mantra untuk membuat harapan mereka menjadi kenyataan. Desa ini ditempuh dengan berjalan kaki selama 4 jam atau kurang lebih 10 km dari desa Kilmoy.

·      Desa Banggoi (Waematakabo – Kec. Bula Barat)
Desa Banggoi adalah desa yang didominasi oleh transmigran dari Bali melalui program Mayoritas penduduk desa Banggoi adalah orang Bali yang transmigrasi mengikuti program pemerintah. Pendapatan utama mereka adalah bertani. Upacara keagamaan biasanya dilaksanakan di kuil-kuil pada saat bulan purnama ataupun event-event menarik dalam kalender keagamaan mereka. Kebanyakan orang sering mengatakan bahwa ada orang Bali hidup di Bula, itu karena mereka menjaga tradisi mereka dengan baik.

·      Teluk Gusalaut
Teluk Gusalaut terletak di kecamatan Werinama. Tempat ini memiliki panorama yang istimewa dipenuhi oleh tumbuh-tumbyhan yang subur di sepanjang garis pantai. Tanjung Gusalaut biasanya digunakan sebagai pelabuhan penyebrangan kapal perintis untuk menyeberangi Pulau Geser. Tanjung ini dapat dicapai dengan speedboat selama 2 jam dari Werinama. Dari tanjung ini terdapat Air Terjun Sakakik di desa Batuasa, 1 jam perjalanan dengan speedboat.

·      Gunung Kilbadir
Gunung Kilbadir terletak di desa Madak. Menurut kepercayaan lokal, dulu gunung kilbadir berlokasi didekat desa Salagur, namun berpindah ke desa Madak akibat adanya perdebatan agama diantara kedua desa.

AKOMODASI
·      Penginapan Rifai I
Jl. Masohi. T. 0915-21103
·      Penginapan Rifai II
Jl. Padat Karya
·      Penginapan CNM
Jl. Padat Karya. T. 0915-22052
·      Penginapan Tri Putra
Jl. Padat Karya
·      Penginapan Damai
Jl. Padat Karya

RESTORAN
·      Restoran Sinar Bula
Jl. Tamaela. T. 0915-21462
·      RM. Bula Raya
Jl. Padat Karya. T. 0915-21044
·      RM. Arema
Jl. Wailola
·      RM. Ayah Bunda
Jl. Wailola
·      RM. Pelangi
Jl. Wailola

TRANSPORTASI
·      AKDP (Angkutan Kota Dalam Provinsi)
·      Kapal Motor

Sumber :http://infotimurseram.blogspot.com/2016/01/sekilas-kabupaten-seram-bagian-timur.html

alistarbot

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget